Penerapan balanced scorecard untuk menilai kinerja perusahaan

Santoso, Puji (2006) Penerapan balanced scorecard untuk menilai kinerja perusahaan. Undergraduate thesis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Merdeka Malang.

[img]
Preview
Text
COVER.pdf

Download (918kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB 1.pdf

Download (67kB) | Preview
[img] Text
BAB 2.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (256kB)
[img] Text
BAB 3.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (78kB)
[img] Text
BAB 4.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (198kB)
[img] Text
BAB 5.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (65kB)
[img]
Preview
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (59kB) | Preview

Abstract

Setiap manajemen perusahaan memerlukan suatu alat untuk mengukur kinerja perusahaannya untuk mengetahui seberapa baik performa perusahaan. Biasanya obyek yang diukur adalah bagian keuangan. Mengapa hanya bagian keuangan? Jawabannya sederhana karena keuangan berbicara mengenai angka dan angka. Sesuatu yang mudah dihitung dan dianalisa. Dengan perkembangan ilmu manajemen dan kemajuan teknologi informasi, sistem pengukuran kinerja perusahaan yang hanya mengandalkan perspektif keuangan dirasakan banyak memiliki kelemahan dan keterbatasan karena ada perspektif non keuangan yang penting yang dapat digunakan dalam mengukur kinerja perusahaan. Kenyataan inilah yang menjadi awal terciptanya konsep balanced scorecard. Sejarah Balanced scorecard dimulai dan diperkenalkan pada awal tahun 1990 di USA oleh David P Norton dan Robert Kaplan melalui suatu riset tentang “pengukuran kinerja dalam organisasi masa depan”. Istilah balanced scorecard terdiri dari 2 kata yaitu balanced (berimbang) dan scorecard (kartu skor). Kata berimbang (balanced) dapat diartikan dengan kinerja yang diukur secara berimbang dari 2 sisi, yaitu sisi keuangan dan non keuangan, mencakup jangka pendek dan jangka panjang serta melibatkan bagian internal dan eksternal. Sedangkan pengertian kartu skor (scorecard) adalah suatu kartu yang digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja baik untuk kondisi sekarang ataupun untuk perencanaan di masa yang akan datang. Dari definisi tersebut pengertian sederhana dari balanced scorecard adalah kartu skor yang digunakan untuk mengukur kinerja dengan memperhatikan keseimbangan antara sisi keuangan dan non keuangan, antara jangka pendek dan jangka panjang serta melibatkan faktor internal dan eksternal. Dari hasil studi dan riset yang dilakukan disimpulkan bahwa untuk mengukur kinerja masa depan, diperlukan pengukuran yang komprehensif yang mencakup 4 perspektif yaitu: keuangan, customer, proses bisnis/intern, dan pembelajaran-pertumbuhan. Berdasarkan konsep balanced scorecard ini kinerja keuangan sebenarnya merupakan akibat atau hasil dari kinerja non keuangan (costumer, proses bisnis, dan pembelajaran). Pada awal perkembangan penerapan konsep balanced scorecard, perusahaan-perusahaan yang ikut serta dalam eksperimen tersebut mengalami pelipatgandaan kinerja keuangan mereka. Keberhasilan ini membuka cakrawala baru bagi eksekutif akan pentingnya perspektif non keuangan yang berperan sebagai pemicu kinerja keuangan (measures that drive performance). Bagaimana balanced scorecard ditinjau dari sistem manajemen strategik perusahaan? Di dalam sistem manajemen strategik (strategic management system), ada 2 tahapan penting, yaitu tahapan perencanaan dan implementasi. Posisi balanced scorecard awalnya berada pada tahap implementasi. Fungsi balanced scorecard di sini hanya sebagai alat ukur kinerja secara komprehensif kepada para eksekutif dan memberikan feedback tentang kinerja manajemen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata PT PLN tidak menggunakan Balanced Scorecard dalam pengukuran kinerja perusahaan, hal ini dapat terlihat dari masih tidak seimbangnya antara kenaikan disisi keuangan daripada disisi non keuangan, sebagai berikut : Balanced Scorecard sebagai alat ukur kinerja perusahaan pada PLN (persero) APJ Malang yang terdiri : financial perspective, customer perspective, internal business process perpective dan learning and growth perpspective, yang dilihat pada aspek keuangan dan apek non keuangan. Penerapan Balanced Socorecad pada perusahaan dilihat pada aspek keuangan atau financial perspective, hasil dari Return On Investment tahun 2004 mengalami penurunan kerugian sebesar 23,66 %, sedangkan pada non keuangan customer perspective yang terdiri : Number Of Complaint tahun 2004 sebesar 0,15%, Customer Retention tahun 2004 sebesar 96,19 %, Customer Acquisition tahun 2004 sebesar 1,89 %, semua indikator pada Customer Retention mengalami peningkatan dari target tahun 2003 Internal Business Process Perspective yang terdiri dari Minimize Error Rate and Rework tahun 2004 sebesar 1,1%, Responsive Service tahun 2004 sebesar 1,95 % mengalami kestabilan dan peningkatan. Learning and Growth Perspective terdiri Absenteeism tahun 2004 sebesar 1,95 %, Employee Retention sebesar 96,83 % mengalami kestabilan. Dari informasi tersebut diatas dapat diketahui beda persentase kenaikan antara aspek keuangan dan non keuangan perusahaan. Apabila perusahaan menggunakan Balanced Scorecard dalam mengukur kinerja perusahaan maka persentase perubahan antara aspek keuangan dan non keuangan perusahaan akan berimbang. Sehingga saran saya sebagai peneliti kepada perusahaan, perusahaan harus mengganti pengukuran kinerja yang berfokus psds sisi keuangan menjadi pengukuran kinerja yang melibatkan aspek keuangan dan aspek non keuangan, yakni Balanced Scorecard.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Additional Information: Nama : Puji Santoso NIM : 02230137
Uncontrolled Keywords: Penerapan balanced scorecard, kinerja perusahaan
Divisions: Fakultas Ekonomi dan Bisnis > S1 Akuntansi
Depositing User: Surya Dannie
Date Deposited: 04 Mar 2021 03:08
Last Modified: 04 Mar 2021 03:08
URI: http://eprints.unmer.ac.id/id/eprint/605

Actions (login required)

View Item View Item